Wastu Miruda 07: Waktu Arsitektur

Wastu Miruda 07: Waktu Arsitektur

Wastumiruda baru saja kembali dari perjalanan spiritual-arsitekturalnya di India, di sana dia bertemu dengan Yogi Raman membicarakan tentang waktu, mulai waktu absolut dan waktu nisbi, waktu fisik dan waktu psikis, waktu yang molor dan waktu yang mungkret, hingga waktu rasio dan waktu rasa.

Setiba di puncak Kelud, dia disambut oleh mahasiswa-mahasiswa arsitektur dari beberapa perguruan tinggi. Rupanya mereka mahasiswa baru yang akan mulai belajar tentang arsitektur, mereka sangat bersemangat, seperti ada api menyala di dada mereka.

Salah satu dari mereka sebagai juru bicara, langsung bertanya-jawab dengan Wastumiruda:

M: guru, jika kami ingin menjadi sarjana arsitektur, kami harus belajar berapa tahun?

W: empat tahun!

M: jika kami belajar lebih keras lagi guru, perlu berapa tahun?

W: delapan tahun!

M: jika kami tambah dengan lembur setiap hari, perlu berapa tahun?

W: dua belas tahun!

M: jika kami belajar mati-matian siang-malam tanpa henti, butuh berapa tahun?

W: enam belas tahun!

M: lho, guru, mengapa jika kami berusaha lebih keras, malah butuh waktu lebih lama?

W: karena kau melupakan dua hal, yaitu kesabaran dan hukum alam. Segala hal perlu proses nak, ilmu dan praksis arsitektur bukan sulap, tak mengenal hasil instan yang bisa jadi seketika. Bibit Jati perlu waktu puluhan tahun untuk menjadi Kayu Jati yang keras, dan itu tak bisa dipersingkat menjadi lima hari seperti maumu. Semakin kau tak sabar, tergesa-gesa dan mengingkari hukum alam, perjalananmu akan semakin lama.

tergesa-gesa

tergesa-gesa

Satu persatu mereka meninggalkan tempat dengan dahi berkernyit, seperti berusaha keras mencerna kata-kata Wastumiruda yang bagi mereka agak membingungkan, ambigu sekaligus paradoksal. Dari jauh, Wastumiruda meneriaki mereka: “Dosen-dosenmu jauh lebih tahu bagaimana memperlakukan kamu, ikutilah mereka, semoga kamu semua mendapat pencerahan!”

Anas Hidayat
Architext di REK- REpublik Kreatif Surabaya
dan di Unika Darma Cendika Surabaya/UPN Veteran Jatim

Advertisements

Wastu Miruda 06: Archilexicon

Wastu Miruda 06: Archilexicon

Di suatu pagi, Wastumiruda sedang ditunggu oleh murid-muridnya. Dalam jadwal hari itu tertulis bahwa akan diajarkan “Archilexicon”. Dalam hati mereka bertanya-tanya: pelajaran macam apa ini? rasanya belum pernah dengar…

wastumiruda 06

Sejenak kemudian, tiba-tiba Wastumiruda datang sambil membawa sebuah poster besar yang tergulung, dia berkata: “Aku telah bertemu dan bergaul dengan banyak arsitek, mulai arsitek tua-muda, laki-perempuan, konservatif-moderat, global minded-local minded, modern-tradisional, idealis-pragmatis, manual-digital, sampai yang normal-abnormal. Mengamati mereka sungguh menarik, dan mereka terdiri berbagai tipe dan jenis yang berbeda-beda. Maka aku kumpulkan istilah-istilah ini untuk menggambarkan keragaman mereka, dan aku namai ini Archilexicon, kosakata tentang arsitek.”

Pelan-pelan Wastumiruda membuka gulungan poster besar itu, dan murid-murid mulai membacanya. Wastumurida berkata lagi: “Ini bukan ilmu absolut, nak, kamu boleh menambahinya sendiri sesuka hatimu…”.

Wastumiruda menempel poster itu di dinding, lalu pergi secepat kilat meninggalkan asap putih berkabut seperti kapas, murid-muridnya pun segera mengerumuni poster Archilexicon itu dan berebut mencatatnya dalam buku masing-masing.

Inilah isi poster Archilexicon itu:

Archilexicon:

starchitect= arsitek bintang

starchitrek= arsitek penggemar star-trek

semiarchitect= setengah arsitek (setengah bukan)

peculiarchitect= arsitek aneh

barchitect= arsitek yang suka pergi ke bar

warchitect= arsitek yang suka perang (di segala medan)

liarchitect= arsitek pembohong (atau arsitek liar)

similarchitect= arsitek yang karyanya mirip-mirip

dollarchitect= arsitek yang “hanya” mencari uang

supercarchitect= arsitek bermobil mewah

solarchitect= arsitek pemuja matahari (aktif di siang hari)

lunarchitect= arsitek pemuja bulan (aktif di malam hari)

sugarchitect= arsitek gula-gula (manis selalu)

sub-architect= arsitek yang “nge-sub” desain arsitek lain

smartchitect= arsitek yang cerdas

scholarchitect= arsitek yang masih belajar (calon arsitek)

soccerchitect/dancerchitect/singerchitect/dll.= arsitek sesuai hobinya

smokerchitect= arsitek yang perokok (ahli hisap)

popularchitect= arsitek yang populer

fartchitect= arsitek “ngentutan” (suka kentut)

fragilarchitect= arsitek rentan, mudah pecah

hooligarchitect= arsitek perusak/pengacau

bomberchitect= arsitek kelas berat

blunderchitect= arsitek yang sering membuat kesalahan

beggarchitect= arsitek pengemis proyek

marketerchitect= arsitek pemasar (arsitek pasaran?)

bibliarchitect= arsitek yang bergelut dengan buku-buku

bipolarchitect= arsitek dua kutub (:dua kaki, dua wajah, dst.)

ghostchitect= arsitek yang namanya tak pernah muncul

prophetect= arsitek setengah nabi

profitect= arsitek pencari untung

angrytect= arsitek yang suka marah-marah (cek tensi mas..)

cetarsitek= arsitek yang membahana (katanya Syahrini)

makelarsitek/brokerchitect= arsitek sambil makelar

mekarsitek=arsitek yang sedang mekar

buyarsitek= arsitek yang membuyarkan apa saja

bongkarsitek= arsitek tukang bongkar sana-sini

samarsitek= arsitek yang samar-samar (bisa arsitek, bisa bukan)

semarsitek= arsitek yang bijak (seperti Semar)

sekedarsitek= sekedar arsitek, arsitek ala kadarnya

sabarsitek= arsitek yang sabar (disayang Tuhan)

pintarsitek= arsitek yang pintar (belajar terus ya…)

mayarsitek= arsitek yang lumayan (atau arsitek dunia maya)

makasarsitek/banjarsitek/denpasarsitek/dll.= arsitek sesuai daerahnya

mistarsitek= arsitek jadul (masih pakai penggaris/mistar)

gitarsitek= arsitek yang bisa main gitar

modarsitek= (kata serapah arsitek, seperti keparat, kampret dll.)

arsitek ting-ting= arsitek ingusan, arsitek baru lulus

arsitak-tik-boom= arsitek yang karyanya selalu booming

arsitorus/arsitompul/arsitumorang/dll.= arsitek Batak (sesuai marga)

arsitaurus= arsitek berbintang taurus

arsitarius= arsitek berbintang sagitarius

arsitadz= arsitek setengah ustadz (alhamdulillah…)

archigrand/archigreat= arsitek agung/arsitek besar

archethics= arsitek yang mengutamakan etika/kode etik

architext= arsiteks, arsitek yang menulis

architress= arsitek wanita/perempuan

archibless= arsitek “tiban” (tiba-tiba jadi arsitek)

architab= arsitek pengguna tablet

architheolog= arsitek setengah teolog

art-chitect= arsitek yang seniman, seniman yang arsitek

architrophy= arsitek yang sering menang sayembara

architrouble= arsitek bermasalah

architexpert= arsitek ahli, ahli arsitek

architexport= arsitek berkualitas ekspor

architexpatriate= arsitek yang mencari uang di negeri orang

architexpired= arsitek kadaluwarsa (waktunya memperpanjang SKA)

architexclusive= arsitek yang ekslusif

architear/tearchitect= arsitek berurai air mata (melankolis)

archipair/pairchitect= pasangan suami-istri arsitek (cinlok?)

architruth= arsitek yang mencari kebenaran

architrust= arsitek yang dapat dipercaya

architoxic= arsitek beracun (dan berbahaya)

architoy= arsitek boneka

architocrat= arsitek ningrat

archit-chat= arsitek yang suka ngobrol

architrapped= arsitek yang terjebak/terperangkap

architroop= arsitek bermental serdadu (pantang mundur)

archilect/archilecturer/architeacher= arsitek yang mengajar

archisearch/searchitect= arsitek yang peneliti/periset

architech= arsitek yang keranjingan teknologi

architrace= arsitek yang suka mencari jejak

architrader/traderchitect= arsitek berjiwa saudagar

architrance= arsitek kesurupan

architransformer= arsitek yang bisa berubah-ubah wujud

architrend= arsitek pengikut trend

architruck= arsitek juragan truk

archithumb= arsitek cap jempol

architrip= arsitek yang suka jalan-jalan

architrick= arsitek yang punya banyak trik

architry= arsitek yang suka mencoba-coba

architower/towerchitect= arsitek perancang bangunan tinggi

archithinker/thinkerchitect= arsitek yang pemikir

architweet/tweeterchitect= arsitek yang hobi nge-tweet

architequila= arsitek minum-minum (mabuk lagi coy..)

archiklept= arsitek pencuri ide

archinext= arsitek masa depan

archigrapher= arsitek yang pandai mendeskripsikan karyanya

architectophobia= orang yang takut kepada arsitek/arsitektur

architectophilia= orang yang cinta kepada arsitek/arsitektur

architectomaniac= orang yang tergila-gila kepada arsitek/arsitektur

architectoholic= orang yang mabuk arsitektur

architectosopher= orang yang berfilsafat via arsitek/arsitektur

architectomancer= peramal arsitektur

architectonaut= penjelajah lintas-jagad arsitektur

 

Anas Hidayat

Architext di REK- REpublik Kreatif Surabaya

dan di Unika Darma Cendika Surabaya


Wastu Miruda 05: Cerita Batu-batu

Wastu Miruda 05: Cerita Batu-batu

Suatu sore di puncak Kelud yang masih berasap.

Matahari telah condong ke barat, hawa udara berangsur-angsur mendingin.

Wastumiruda memandangi puncak gunung Kelud yang beberapa minggu lalu meletus dan memuntahkan jutaan meter kubik isi perut lewat kawahnya, hanya dalam semalam. Menggetarkan dan menggentarkan seluruh Nusa Jawa. Batara Ri Palah baru saja murka, sebuah murka periodik, yang ajeg, yang selalu diwaspadai manusia turun-temurun. Batu-batu sebesar kerbau, sebesar gajah hingga sebesar rumah berceceran di sekitar puncak kawah. Hutan-hutan meranggas dan kelabu, bagai disembur gumpalan api dari neraka.

gambar ilustrasi dari: www.merdeka.com

gambar ilustrasi dari: http://www.merdeka.com

Lama sekali Wastumiruda memandangi puncak berbatu itu, makin tajam dan makin tajam, hingga akhirnya puncak gunung Kelud bergerak-gerak dan mengeluarkan gemuruh yang mengerikan dari dalam.

“Gggrhhhhhh…..brrbhhhhhh,” gunung itu seperti berguman

“Ohhh,, mengapa gunung ini bisa bergerak dan hidup?”

“Apakah kamu lupa ajaran gurumu, Wastumiruda. Gurumu yang bernama Zarathustra. Lewat mulut Nietzsche dalam beyond good and evil dia berkata: Jika engkau memandangi sesuatu sangat lama, sesuatu itu akan ganti menatapmu. Nah, engkau lama sekali memandangiku, maka sekarang aku yang bangun dan balas memandangmu.”

“Tapi kamu adalah batu, dan aku manusia”, sangkal Wastumiruda.

“Watakmu itu adalah watak seumumnya manusia, yang selalu merendahkan batu, yang bahkan menganggap batu sebagai keberadaan terendah. Batu sebagai sebuah kutukan.”

“Aku tidak merendahkan batu. Lihatlah para manusia pilihan yang disebut wastuwidyawan atau arsitek itu. Mereka telah mengubah dan menggubah batu-batu menjadi karya yang berguna, yang indah, yang hidup, yang berwatak, yang berkarakter.”

“Betul, Wastumiruda. Tapi kebanyakan dari mereka lupa akan cerita batu-batu. Mereka merasa seperti “Tuhan” yang bisa meniupkan nyawa pada batu-batu. Mereka merasa menjad Master yang mengukir kegunaan dan keindahan pada batu-batu. Mereka lupa bahwa batu-batu itu sendiri sebetulnya sudah bernyawa.”

“Benarkah batu bernyawa?” Wastumiruda keheranan.

“Ya, engkau pasti lupa pada cerita-cerita batu yang aku bilang tadi. Cerita Roro Jonggrang dikutuk menjadi batu oleh Bandung Bondowoso karena menyalahi janjinya sendiri. Cerita Malin Kundang dikutuk menjadi batu karena mendurhakai ibunya. Cerita Dewi Windradi dikutuk menjadi batu oleh Resi Gotama suaminya karena berkhianat, selingkuh dengan Batara Surya. Batu-batu memang memendam cerita-cerita tentang kekalahan, kedurhakaan, kelicikan dan pengkhianatan manusia.”

“Lalu apa?”, tanya Wastumiruda lagi.

“Begini, Wastumiruda. Tugas arsitek adalah meruwat batu-batu itu, agar muncul kembali Roro Jonggrang, Malin Kundang atau Dewi Windradi dalam wujud kehidupan yang baru, menghilangkan jejak kekalahan, kedurhakaan dan pengkhianatan yang dulu pernah mereka alami. Namun, kebanyakan arsitek malah memilih menjadi Midas, setiap kehidupan yang disentuhnya menjadi emas yang berkilauan, tetapi mati, beku, diam dan membatu. Bahkan ada juga arsitek yang memilih menjadi Sisiphus, yang menggelindingkan batu kesana-kemari seumur hidupnya, batu itu menjadi beban abadi baginya”

“Mengapa bisa begitu?”, Wastumiruda hanya bisa bertanya terus.

“Sekali lagi. Itu karena mereka lupa cerita batu-batu, dan akhirnya mereka sendiri menjadi batu, kehilangan kepekaan kehidupan, kehilangan empati kepada liyan (yang lain), kehilangan rasa hormat kepada alam, susah menerima pendapat yang berbeda. Mereka lupa bahwa kami, batu-batu ini hidup, kami punya ibu bernama lava, nenek moyang kami adalah magma yang bergejolak dalam perut bumi, yang sekali jilat bisa membuat ribuan orang mati, yang sekali gertak bisa membuat jutaan orang mengungsi. Jika engkau lupakan dongeng dan cerita batu-batu, engkau sendiri akan membeku, menjadi batu.”

Puncak Kelud masih meneruskan sabdanya: “Arsitek adalah seorang Anti-Medusa, lawan Medusa. Jika Medusa mengubah kehidupan menjadi batu, arsitek mestinya bisa mengubah batu-batu menjadi kehidupan.”

Wastumiruda agak takut dan ngeri, gunung itu makin berguncang. Dia segera pergi meninggalkan tempat itu. Di jalan, dia berguman sendiri: “Tetapi kebanyakan arsitek memang kepala batu, bagaimana bisa menggubah kehidupan? hahahahahaha….” Tawa Wastumiruda berderai-derai memecah kesunyian, sambil melesat menuruni lereng Kelud untuk kembali ke tempat tetirahnya. Anak-anak kecil di desa Sepawon berlarian, menyangka ada orang gila sedang lewat kampung mereka di rembang petang itu.

Tak disangka, di angkasa masih terdengar suara menggelegar dari puncak Kelud: “Betul katamu Wastumiruda. Tapi setidaknya para arsitek itu tak berhati batu!”. Wastumiruda terdiam, tak berani melanjutkan kata-kata. Dia hanya berharap segera sampai di pesanggrahannya. Dia telah mendapat pelajaran berharga dari batu-batu dan tentang batu-batu di sore itu.

(Anas Hidayat, Architext)


Wastu Miruda 04: Ada dan Tiada

Wastu Miruda 04: Ada dan Tiada

Suatu pagi buta, setelah bangun tidur, Wastumiruda dikejutkan dengan kedatangan seorang pemuda di tempat tetirahnya. Pemuda tanggung itu memaksa untuk membicarakan sesuatu yang katanya penting. Dengan agak terkantuk-kantuk, Wastumiruda pun memenuhi permintaan tersebut. Dilihat dari gaya berpakaian dan sikapnya, kelihatannya dia seorang mahasiswa. Entah dari perguruan tinggi mana, karena lambang almamater pada jaketnya ditutupi dengan lakban. Lalu terjadilah pembicaraan antara si Mahasiswa (M) dan sang Wastumiruda (W):

 

M: Jelaskan kepada saya tentang arsitektur

W: Tak ada yang perlu dijelaskan. Arsitektur itu pada dasarnya tidak ada.

 

M: Bagaimana bisa? bukankah gedung-gedung di seantero desa, kota dan dunia ini adalah arsitektur?

W: Tidak, aku hanya melihat rumah, kantor, hotel, toko, pasar, sekolah, pos satpam dan lain-lain. Tak sekalipun aku melihat arsitektur.

 

M: Bukankah arsitektur juga dibuat dari material yang nyata? batu, bata, beton, baja, kayu dan juga kaca?

W: Aku setuju, aku bisa memegang bata, membeli kayu, memotong baja. Tapi aku tak pernah bisa memegang arsitektur, membeli arsitektur atau memotong arsitektur.

 wastumiruda 04

M: Jadi, arsitektur itu…..

W: Hanya fenomena, bukan realitas

 

M: Terus, bagaimana dengan arsitek?

W: Sudah jelas, hanya pembuat fenomena

 

M: Realitasnya bagaimana?

W: Yang ada ya si pembuat rumah, si perancang kantor, si pembikin restoran dan lain-lain, dengan menggubah bahan bata, batu, kayu, bambu, baja, asbes, besi, keramik dan sebagainya.

 

M: Ohhh, saya sudah terlanjur kuliah di Jurusan Arsitektur

W: Bukan urusanku, itu urusanmu dengan Tuhan dan dosen-dosenmu

 

M: Apa yang sebaiknya saya lakukan?

W: Buang jauh-jauh urusan garis, bidang, ruang, bentuk, simetri, komposisi, kontras, tradisional, modern, posmodern, metafora, geometri dan semacamnya dari otakmu. Berbuatlah dengan apa yang bisa kamu genggam, kamu raba, kamu sambung, kamu banting, kamu tekuk, kamu remas.

 

M: Apakah saya masih bisa menjadi arsitek?

W: Bisa, seekor keledai biasanya selalu tertarik pada fatamorgana

 

M: Hehehe, apa nasehat anda sebelum saya pulang?

W: Jangan pernah percaya omonganku, kata-kataku juga bukan realitas. Percayalah kepada tanganmu dan hatimu, karena pikiranmu kelihatannya sudah terlalu banyak dicuci dan dicemari.

 

M: Ah, saya jadi galau…

W: Hmmm, ini nasehat terakhirku: sebaiknya kamu segera beli kepala baru

 

M: Mengapa begitu?

W: Karena jika kamu terlalu lama memakai kepala itu, kepalamu akan menjadi beku, dogmatis, lalu menjadi tiran atas dirimu. Kamu tak bisa menghakimi dan menilai sesuatu – apalagi yang kamu sebut sebagai arsitektur itu – hanya dengan satu kepala saja.

 

Kemudian si mahasiswa tadi pamit pulang, tetapi di tengah jalan dia tersesat dan ditemukan penduduk lereng gunung Kelud. Dia menceritakan pengalamannya bertemu sang Wastumiruda. Menurut desas-desus penduduk sekitar gunung yang dibisikkan oleh seorang warga, Wastumiruda yang misterius itu pernah bertukar kepala dengan iblis di gurun Asia Tengah, juga pernah bertukar kepala dengan orang gila dari dataran tinggi Dieng, bahkan pernah bertukar kepala dengan seorang bajak laut Selat Malaka. Tak ada yang tahu, kepala siapa yang sekarang bertengger di atas lehernya itu….

 (Anas Hidayat, Architext)


Wastu Miruda 03: Paradoks Pendidikan Arsitektur Kita

Wastu Miruda 03: Paradoks Pendidikan Arsitektur Kita

Wastumiruda berkeliling dari kota ke kota dan melihat wajah-wajah baru yang sudah setengah tahun ini mengikuti pendidikan arsitektur. Ada antusiasme dan euforia di awal yang hampir niscaya nantinya diikuti dengan kebingungan dan kegamangan. Wastumiruda berujar: “Pendidikan arsitektur kita seperti mengajari burung terbang bebas di dalam sangkar, atau seperti mengajari singa yang diikat untuk mengejar mangsa.”

Lanjutnya lagi: “Bagaimana mungkin, ilmu yang bebas dan imajinatif itu kamu ikat dengan metode-metode saintifik yang membelenggu? Hasilnya mudah ditebak: lulusan-lulusan yang gampang masuk angin dan diare ketika terjun ke dunia nyata di luar sana, karena terus-menerus menelan mentah-mentah apa yang ada di hadapannya.”

Tak ada yang tahu kata-katanya itu ditujukan kepada siapa: “Kaum muda harus diajari dengan cara muda, bukan dengan cara-cara tua, apalagi cara kuno. Seperti diajarkan oleh kakek-guru saya dalam beyond good and evil: muda adalah gua yang penuh mekarnya bunga-bunga, tua adalah naga yang keluar dengan marah. Alangkah sayang jika bunga-bunga yang mekar itu disembur api oleh naga-naga pemarah, lalu layu dan mati, tak pernah sempat menjadi buah”.

Kemudian Wastumiruda datang ke sekolah-sekolah arsitektur dan mencoreti temboknya dengan tulisan yang berbunyi:
“Pendidikan Arsitektur itu sebuah lomba marathon yang panjang, tetapi mengapa mereka hanya diajari sprint (lari cepat)? Mereka sangat cepat di awal, tapi jelas akan keponthal-ponthal dan kehabisan napas di tengah jalan”.

Tiba-tiba terjadi hal yang ganjil, sekolah-sekolah arsitektur itu mendadak berubah menjadi pohon besar arsitektur, metode-metode yang selama ini diajarkan berubah menjadi tali-tali menjulur yang menggantung mahasiswa tepat di lehernya, dan dosen-dosen mereka serta-merta menjadi dingklik (kursi kecil) yang menopang mahasiswa agar tidak mati tercekik.

Wastumiuda mengalami peristiwa ganjil

Wastumiuda mengalami peristiwa ganjil

Wastumiruda terkejut, tak mengerti sepenuhnya apa makna dari kejadian itu, tapi dia masih terus saja mengoceh:
“Pendidikan mestinya belajar untuk mencari hubungan-hubungan – demikian kata Vaclav Havel – bukannya memisah-misahkan.”
“Kita masih belum menjelajah liyan (the other) dalam arsitektur. Kita terpaku pada onesidedness (ke-satusisi-an) yang parah.”
“Kita masih reproduktif, belum produktif. Kita sibuk mengulang-ulang saja, lupa harus “mencipta” wacana dan karya kita sendiri.”

Seorang dosen muda yang tak berubah menjadi dingklik bertanya pada Wastumiruda: “Lalu apalagi?”
“Jangan ajari mereka dengan kebenaran saja, ajarkan juga dusta. Bukankah desain dan arsitektur adalah dusta yang dibungkus dengan kebenaran?” Wastumiruda mulai sedikit melantur.
“Lalu bagaimana caranya?” si dosen muda terus bertanya.
“Ubahlah cambukmu menjadi seruling, anak muda!” Tiba-tiba Wastumiruda pergi secepat kilat, takut mendapat pertanyaan lebih lanjut. Dalam perjalanan kembali ke persemayamannya di puncak Kelud, tak lupa dia mampir ke Apotek K-24 untuk membeli obat favoritnya: Bodrex!!!

(Anas Hidayat, architext)


Wastu Miruda 02: Sungsang Wastu Jempalik

Wastu Miruda 02: Sungsang Wastu Jempalik
Wastumiruda sebenarnya berasal dari jaman kuno, tidak jelas benar kapan dan di mana dia lahir, nama aslinya adalah Undagila. Awalnya dia ikut Syeh Subakir yang pertama menaklukkan tanah Jawa, lalu dia menjadi murid Syeh Amongraga meskipun tidak serajin Niken Tambangraras. Kemudian dia pergi mengembara ke mana-mana, termasuk ke Bugis dan ikut Sawerigading berlayar ke Cina dengan kapal keramatnya. Dari Cina dia tidak ikut pulang, tetapi bertualang ke Persia, di sanalah dia bertemu dan berguru pada Zarathustra.

Sebagai murid Zarathustra, dia mendapat nama Architecthustra, atau di-Indonesia-kan menjadi Arsitekthustra. Memang, ternyata Zarathustra memiliki banyak murid dengan nama yang diberikannya sendiri. Ada Desainustra, Hukumustra, Sosialustra, Kulturustra, Bahasasustra, Ekonomistra, Politikustra, Biologistra dan lain lain. Nama-nama itu disesuaikan dengan bidang apa yang disukai dan digeluti oleh murid-muridnya.

Belum selesai berguru, dia sudah mengembara lagi. Tidak hanya lintas benua, tetapi juga lintas jaman. Suatu ketika di tahun 1980-an, Arsitekthustra ini pernah bertemu Y.B. Mangunwijaya di Jogjakarta. Karena terlihat bengal dan suka minggat, Romo Mangun memberinya nama yang agak berbau Jawa-Sanskrit: Wastumiruda. Awalnya akan diberi nama Wastucitra, tapi ditolaknya karena nama itu dianggap terlalu feminin (mengingatkannya pada Bunga Citra Lestari), dan lagi sudah jadi judul buku.

Sungsang Wastu Jempalik

Sungsang Wastu Jempalik

Akhirnya, Wastumiruda menjadi sufi arsitektural pengembara, belajar segala hal sampai sedalam-dalamnya, seluas-luasnya, sekaligus juga secanda-candanya, seiseng-isengnya, sengawur-ngawurnya sampai sesontoloyo-sontoloyonya, tapi tak pernah sampai selesai. Dia juga pernah berguru kepada Nasrudin Hoja sampai Turki, Abunawas di Baghdad dan bertemu orang-orang Mu’tazilah, juga pada sufi pengelana Jalaluddin Rumi, pun kepada suku-suhu Tao di Tiongkok, juga pendeta-pendeta Veda di India, sampai pada guru-guru Zen di Jepang.

Wastumiruda bersifat diabolic (menghantu) dan bisa muncul bersamaan di beberapa tempat yang berbeda. Dia hidup tak berwaktu, pernah berbincang dengan Prabu Jayabaya di Kediri, Empu Prapanca di Majapahit, Ronggowarsito di Surakarta dan pernah ikut Sosrokartono keliling Eropa. Pernah berdiskusi dengan Vitruvius di Roma, bercanda dengan Le Corbusier di dekat menara Eiffel sampai mulas perutnya, bahkan main panco lawan Rem Koolhaas ketika mabuk di sebuah bar di Belanda. Pernah juga ditampar Gehry gara-gara tak sengaja meludahi maketnya.

Wastumiruda pun sempat membujuk arsitek Liem Bwan Tjie agar tidak pergi ke Belanda pasca G 30 S 1965 di Indonesia, tetapi Liem bersikukuh karena khawatir dengan ketakjelasan situasi. Dia pernah iseng kembali ke jaman ketika Candi Prambanan dibangun untuk mengetahui pembuatannya oleh dinasti Sanjaya, sialnya dia malah terjebak ke alam legenda dan bertemu Bandung Bondowoso yang sedang bernegosiasi dengan Roro Jonggrang. Karena dianggap mengganggu, dia dikutuk oleh Bandung Bondowoso jadi patung batu selama seratus tahun, dan mungkin itu yang membuat Wastumiruda semakin berwatak kepala batu dan susah diatur.

Jika tak sedang mengembara, Wastumiruda bersemayam di puncak gunung Kelud, yang berada di perbatasan Kediri dan Blitar, di sanalah dia konon merenungkan “ajaran-ajarannya”. Dia menyebut gunung itu Arga Tetirah (gunung tempat istirahat). Kadang-kadang dia turun gunung dengan membawa tongkat naga tanpa kepala. Jika ditanya di mana kepala naga itu, dia menjawab: “ini naga hebat, yang mampu dan berani memakan kepalanya sendiri”. Orang-orang pun bingung (lebih tepatnya: pusing) dengan logikanya.

Kadang dia datang ke komunitas-komunitas desain, datang ke kantor-kantor arsitek, ke sekolah-sekolah arsitektur, ke seminar-seminar, untuk mengabarkan berita besar, yaitu: pembalikan arsitektur! Arsitektur sudah terbalik! Sungsang Wastu Jempalik! Njungkir! Umschlag! Para arsitek, para pendidik arsitek, para mahasiswa arsitek harus menjadi entitas-entitas yang kuat, agar bisa bertahan terhadap jungkir-baliknya arsitektur itu, bukan hanya menjadi tukang yes dan tukang mengekor saja, yang gampang memble hanya karena hembusan kecil dari teori lemah belaka.

(Anas Hidayat, Architext)


Wastu Miruda 01: Awalan

Wastu Miruda 01: Awalan
Rangkaian tulisan ini – yang akhir atau ujungnya saya sendiri juga tidak tahu – saya beri judul Wastu Miruda. Artinya: arsitektur yang menghindar, arsitektur yang minggat. Betapa tidak, setelah ribuan tahun kita bergelut dengan arsitektur, banyak hal-hal positif yang kita dapat, tetapi di pihak lain juga tak kurang hal-hal negatif, serba biner dan bipolar. Serba di sana dan di sini.

Ada arsitektur Barat, ada Arsitektur Timur. Ada arsitektur Modern, ada arsitektur Tradisional. Ada arsitektur Pramodern, ada arsitektur Posmodern. Ada arsitektur teoretis, ada arsitektur praksis. Ada arsitektur progesif, ada arsitektur mapan dan konservatif. Ada arsitektur dengan-arsitek, ada arsitektur tanpa-arsitek. Ada arsitektur sebagai seni, ada arsitektur sebagai ilmu. Ada arsitektur “ingat”, ada arsitektur “lupa”. Dan seterusnya…

Di antara tonggak yang biner dan bipolar itu, ada celah atau rongak yang bisa dipakai untuk melarikan diri, untuk lolos alias minggat. Di situlah tempat yang bernama Wastu Miruda ini berada. Sebuah tempat yang merupakan “asylum of architecture”, kita bisa mengecam, mengkritik, menyindir, meledek atau melakukan apapun tentang arsitektur tanpa takut. Kita juga bebas ngomong yang tabu atau terlarang dalam arsitektur, atau bahkan ngomong yang non-arsitektur sekalipun.

Sang Wastumiruda

Sang Wastumiruda

Tokoh utama dalam tulisan ini adalah sang penghindar itu sendiri, yang bernama Resi Wastumiruda (disambung, tanpa spasi). Anggap saja dia seorang sufi arsitektur pengelana yang agak ngawur, kurang ajar dan sok tahu. Pernah menjelajah delapan penjuru angin, kadang-kadang sampai masuk angin. Bisa berbicara keras sekeras petir atau auman singa Afrika, tetapi bisa lembut selembut dan secentil Syahrini. Kadang-kadang nyata seperti manusia yang berjubah abu-abu dan bertongkat, kadang-kadang hanya seperti lesatan cahaya yang berlalu begitu saja.

Dia tak punya teori, metode, apalagi filosofi tertentu. Dia hanya bicara nyinyir di mana-mana dan sepanjang waktu sampai berbusa-busa, terus-menerus, dan itu disebutnya: wejangan (nasehat utama). Wejangan-nya kadang juga tak pantas disebut wejangan, mungkin hanya ngayawara (omong kosong) atau meracau tak jelas ujung-pangkalnya. Tapi tak apa-apa, toh antara wejangan dan omong kosong sekarang seringkali sama saja. Ini jaman tumpang-tindih dan overlapping.

Selamat datang di Wastu Miruda…

(Anas Hidayat, Architext)